Selasa, 26 April 2011

Pemikiran Ibnu khaldun tentang filsafat pendidikan islam

BAB I
PENDAHULUAN
            Pendidikan merupakan salah satu penopang sebuah Negara . Kita ingat ketika negeri jepang luluh lantak dibombardir bom atom pada tahun 1945, konon, salah satu hal yang dicari pertama kali adalah seorang guru. Artinya, betapa jepang sangat membutuhkan tenaga pendidikan untuk membangun kembali negaranya. Dengan masyarakat yang “melek” pengetahuan, berwawasan tinggi, dan tentunya terdidik untuk maju, para founding father jepang yakin negaranya akan mampu untuk bangkit kembali. Kini kita menyaksikan bagaimana kemajuan yang dicapai negeri “matahari terbit” itu dalam bidang perekonomian, industri terutama dalam bidang IPTEK. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan adalah suatu keniscayaan bagi sebuah Negara yang menginginkan pencapaian kemajuan dalam segala bidang. Tanpa SDM yang mumpuni kemajuan sebuah Negara adalah mustahil dan untuk menghasilkan SDM yang mumpuni inilah dibutuhkan system pendidikan yang baik.
            Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai perbuatan, (hal, cara dan sebagainya) mendidik. Menurut Ahmad D Marimba pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pemilik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Abudin Nata:2005). Selain itu, pendidikan dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang berorientasi pada pengembangan, pengarahan dan pembentukan kepribadian. Dari beberapa pengertian diatas terlihat bahwa dalam dunia pendidikan minimal didukung oleh beberapa hal berikut:




BAB II
PEMBAHASAN
            Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, pendidikan memiliki peranan dalam upaya pencapaian kemajuan bangsa. Perkembangan dunia pendidikan tentunya tidak akan terlepas dari sumbangsih para ilmuan yang mencurahkan segala perhatiannya pada dunia pendidikan ini. Begitu pun yang dilakukan oleh para ulama sebagai yang merasa berkewajiban untuk menyebarluaskan ilmu-Nya. Salah satu ulama besar, filosof, psikolog sekaligus intelektual muslim Ibnu Khaldun adalah salah satunya.
Dalam makalah ini pemakalah akan mencoba memberikan saran sekelumit tentang biografi Ibnu Khaldun yang berimplikasi pada pemikirannya dalam dunia pendidikan. Bagaimana pendidikan dalam pemikiran Ibnu Khaldun? Apa yang menjadi sumbangsih Ibnu khaldun bagi dunia pendidikan? Apa saja yang mendukung corak pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun ? Dan sebagainya.
PEMIKIRAN IBNU KHOLDUN TENTANG FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM.
1. Pengertian, Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Pendidikan adalah suatu proses untuk menghasilkan suatu out put yang mengarah kepada pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi dan berdisiplin tinggi. Rumusan pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun adalah merupakan hasil dari berbagai pengalaman yang dilaluinya sebagai seorang ahli filsafat sejarah dan sosiologi yang mencoba menghubungkan antara konsep dan realita. Sebagai seorang ahli filsafat sejarah atau historical philosophy approach, karena kedua pendekatan tersebut akan mempengaruhi terhadap sistem dan pemikirannya dalam pembahasan setiap masalah, karena kedua pendekatan tersebut mampu merumuskan beberapa pendapat dan interpretasi dari suatu kenyataan dan pengalaman yang telah dilalui.¹
 Pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan Islam berpijak pada konsep dan pendekatan filosofis-empiris. Melalui pendekatan ini, memberikan arah terhadap visi tujuan pendidikan Islam secara ideal dan praktis. Menurutnya ada tiga tingkatan tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan, yaitu:
Pengembangan kemahiran (al-malakah atau skill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa meneliti, pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuwan. Akan tetapi potensi al-malakah tidak bisa demikian oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-benar memahami dan mendalami suatu disiplin tertentu.
Penguasaan ketrampilan professional sesuai dengan tuntutan zaman (lingkungan dan materi). Dalam hal ini pendidikan hendaknya ditujukan untuk memperoleh ketrampilan yang tinggi pada potensi tertentu. Pendekatan ini akan menunjang kemajuan dan kontinuitas sebuah kebudayaan, serta peradaban umat manusia di muka bumi. Pendidikan yang meletakkan ketrampilan sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan dan mengutamakan peradaban secara keseluruhan. Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berpikir merupakan jenis pembeda antara manusia dengan binatang.
Oleh karena itu, pendidikan hendaknya di format dan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi psikologis peserta didik. Melalui pengembangan akal,
akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dalam kehidupannya, guna mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
2. Kedudukan Manusia Dalam Alam Semesta
Manusia menurut Ibnu Khaldun adalah bukan merupakan produk nenek moyang, akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam,
¹ Google
adat istiadat. Karena itu lingkungan sosial merupakan pemegang tanggung jawab dan sekaligus memberikan corak penilaian seorang manusia. Hal ini memberikan arti bahwa pendidik menempati posisi sentral dalam rangka membentuk manusia ideal yang diinginkan.²
Manusia sebagai khalifah fil ardli, dibekali oleh Allah SWT akal pikiran, untuk mengatur, merekayasa, dan mengolah sumber daya alam untuk keperluan seluruh umat manusia, sehingga manusia memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka manusia dikatakan sebagai makhluk yang berbeda dengan makhluk yang lainnya, karena manusia adalah makhluk yang berpikir. Oleh karena itu manusia mampu melahirkan ilmu (pengetahuan) dan teknologi. Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Kemampuan berpikirnya itu tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menarik peneliti terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup. Proses-proses yang semacam ini melahirkan perbedaan. Akal pikiran yang menghasilkan ilmu pengetahuan, juga dapat menuntun manusia ke jalan Ilahi dan meningkatkan derajat manusia sehingga manusia diwajibkan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Hidupnya jiwa manusia karena ilmu pengetahuan, dan gelapnya hati manusia karena miskinnya ilmu pengetahuan. Dengan akal pikiran inilah yang kemudian menjadikan manusia memiliki perbedaan dengan makhluk lainnya, khususnya binatang. Perbedaan ini antara lain karena manusia disamping memiliki pemikiran yang dapat menolong dirinya untuk menghasilkan kebutuhan hidupnya, juga memiliki sikap hidup bermasyarakat yang kemudian dapat membentuk suatu masyarakat antara satu dengan lainnya saling menolong. Dari keadaan manusia yang demikian itu maka timbullah ilmu pengetahuan dan masyarakat. Pemikiran tersebut pada suatu saat diperlukan dalam menghasilkan sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh panca indera.

 

². Google

Ilmu yang demikian mesti diperoleh dari orang lain telah lebih dahulu mengetahui.3)
1. Tujuan Pendidikan
Menurut Ibn Khaldun, tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal. Di antara tujuan pendidikan tersebut adalah ;
a. Tujuan peningkatan pemikiran.
            Ibn Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan melakukan aktivitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan keterampialan. Dengan menuntut ilmu dan keterampilan,seseorang akan dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Di samping itu, melalui potensinya, akal akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan-pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh oleh pendahulunya. Manusia mengumpulkan fakta-fakta dan menginventarisasikan keterampilan-keterampilan yang dikuasainya untuk memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan yang semakin meningkat sepanjang masa sebagai hasil dari aktifitas akal manusia.³
Atas dasar pemikiran tersebut, maka tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun adalah peningkatan kecerdasan manusian dan kemampuannya berfikir. Dengan kemampuan tersebut, manusia akan dapat meningkatkan pengetahuannya dengan cara memperolah lebih banyak warisan pengetahuan pada saat belajar.
b. Tujuan peningkatan kemasyarakatan
Dari segi peningkatan kemasarakatan, IbnKhaldun berpendapat bahwa ilmu dan pengajaran adalah lumrah bagi peradaban manusia .
³ Prof. DR.H.Ramayun fisafat pendikan islam (kalam mulia Jakarta) hal 283

Ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat manusia kearah yang lebih baik. Semakin dinamis budaya suatu masyarakat, maka akan semakin bermutu dan dinamis pula keterampilan di masyarakat tersebut. Untuk itu , manusia seyogyanya senantiasa berusaha memperoleh ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masarakat dinamis dan berbudaya. Jadi, eksistensinya pendidikan menurutnya merupakan salah satu sarana yang dapat membantu individu dan masyarakat menuju kemajuan dan dan kecemerlangan. Disamping bertujuan meningkatkan segi kemasyarakatan manusia, pendidikan juga bertujuan mendorong terciptanya tatanan kehidupan masyarakat kea rah yang lebih baik.
C. Tujuan pendidikan dari segi kerohanian manusia dengan meningkatkan kerohanian manusia dengan menjalankan peraktik ibadat, zikir, khalawat(menyendiri) dan mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi.
2. Kurikulum Pendidikan dan Klasifikasi Ilmu
            Ibn Khaldun membuat kiasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasanya bagi peserta didik.Ia menyusun kurikulum yang sesuai sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini dilakukan, karena kurikulum dan system pendidikan yang tidak selaras dengan akal dan kejiwaan peserta didik, akan menjadikan mereka enggan dan malas belajar.
Berkenan dengan hal tersebut, Ibn Khaldun membagi ilmu menjadi tiga macam, yaitu:
  Ibid  h 284

a.       Kelompok ilmu lisan (bahasa) : ilmu tentang tata bahasa (gramatika), sastra dan bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.      Kelompok ilmu naqli : ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi.
c.       Kelompok ilmu Aqli : ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kemampuan berfikir. Proses perolehan tersebut dilakukan melalui panca indra dan akal.
Ibn Khaldun menyusun ilmu-ilmu naqli sesuai dengan manfaat dan kepentingannya bagi peserta didik kepada beberapa ilmu, yaitu :
1.      Al-qur’an dan Hadis
2.      Ulum Al-qur’an
3.      Ulum Al-Hadis
4.      Ushul Al-fiqh
5.      fiqh
6.      Ilm Al-Kalam
7.      Ilm Al-Tasawuf
8.      Ilm Ta’bir al-Ru’ya
Menurutnya, Al-qur’an adalah ilmu yang pertama kali diajarkan kepada anak.Al-qur’an mengajarkan kepada anak tentang syari’at Islam yang dipegang teguh oleh para ahli agama dan dijunjung tinggi oleh setiap umat islam.
Al-Qur’an yang telah ditanamkan pada peserta didik akan jadi pegangan hidupnya. Proses ini hendaknya dilakukan sedini mungkin, karena pengajaran pada masa kanak-kanak masih mudah karena otaknya masih jernih.
            Ilmu-ilmu naqli hanya ditujukan untuk dipelajari pemeluk Islam.Walaupun dalam setiap agama sebelumnya ilmu-ilmu tersebut telah ada, akan tetapi berbeda dengan yang terdapat dalam islam. Dalam Islam, eksistensi ilmu berfungsi menasakhkan ilmu-ilmu dari setiap agama yang lalu dan mengembangkan kebudayaan manusia secara dinamis.
   Ahmad fu’ad al-ahwani,al-Tarbiyah fi al-Islam (Mesir: Dara al-Ma’arif.t.th).h.285
Secara khusus, ilmu aqli dibaginya kepada empat kelompok, yaitu :
1.      Ilmu logika (mantiq)
2.      Ilmu fisika ; termasuk didalamnya ilmu kedokteran dan ilmu pertanian.
3.      Ilmu metafisik (‘Ilm al-Ilahiyat)
4.      Ilmu Matematika termasuk didalamnya ilmu Geografi, Aritmatika dan aljabar, ilmu musik, ilmu Astonomi, dan ilmu Nujum.
Mengenai ilmu nujum, Ibn Khaldun menganggapnya sebagai ilmu yang fasid. Pandangannya ini didasarkan asumsi bahwa ilmu tersebut dapat dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Hal itu merupakan sesuatu yang bathil dan berlawanan dengan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.
      Menurut Ibn Khaldun,mempelajari ilmu-ilmu aqli (rasio) dipandang sebagai sesuatu yang lumrah bagi manusia dan tidak hanya milik suatu agama. Ilmu-ilmu aqli (rasio) dipelajari oleh penganut seluruh agama. Mereka sama-sama memenuhi syarat untuk mempelajari dan melakukan penelitian terhadap ilmu-ilmu aqli (rasio). Ilmu-ilmu ini telah dikenal manusia sejak peradaban dikenal oleh manusia di dunia ini. Ia menyebut bahwa ilmu-ilmu aqli (rasio). Merupakan ilmu-ilmu filsafat dan kearifan.
Hanya dapat diketahui oleh manusia melalui proses berfikir dan meneliti, bukan berdasarkan wahyu an sich.Ilmu-ilmu rasio sepantasnya dipelajari dan dikuasai sebagian manusia. Hal ini disebabkan, demikian besar manfaatnya untuk kehidupan indifidu dan masyarakat.Ibn Khaldun berupaya menyusun ilmu-ilmu tersebut diatas berdasarkan urgensi dan faedahnya bagi peserta didik, yaitu :
1.      Ilmu Syari’ah dengan semua jenisnya.
2.      Ilmu filsafat (rasio) ; Ilmu alam (fisika) dan ilmu keTuhanan (Metafisika).
         Abd.Rahman Ibn Khaldun,op.cit.,h 285
3.      Ilmu alat yang membantu ilmu agama ilmu Bahasa Gramatika, dan sebagainya.
4.        Ilmu alat yang membantu ilmu Falsafah (Ratio) ; ilmu Mantiq,dan Ushul Figh.
      Secara umum (global), keempat ilmu tersebut diatas kemudian dibagi oleh Ibn khaldun menjadi dua golongan yaitu :
1.      Ilmu-ilmu pokok
2.      Ilmu-ilmu alat.
Ilmu-ilmu syari’ah dan ilmu-ilmu filsafat berada pada satu klasifikasi. Khaldun menamakannya dengan ilmu-ilmu pokok (al-ulum al-maqsudah bi zatiha). Namun demikian, ia lebih mengutamakan ilmu-ilmu syari’ah dari pada ilmu-ilmu filsafat karena merupakan asas dari ilmu-ilmu. Menurutnya, Ilmu syari’ah dating dari Allah dengan perantaraan para nabi. Manusia hendaknya menerima apa yang dibawa oleh para nabi, melaksanakan dan mengikutinya untuk tercapainya kebahagian.
Adapun golongan ketiga dan keempat, Ibn Khaldun meletakkan pada klasifikasi alat. Dari kedua kategori ilmu alat tersebut, ia dengan tegas mengutamakan ilmu-ilmu alat untuk mempalajari ilmu-ilmu agama, karena sangat penring untuk membantu-memahami teks-teks mulia (al-nushush al-muqaddasah), al-qur’an dan hadis, terutama ilmu bahasa Arab dengan berbagai jenisnya. Ia meletakkan ilmu-ilmu filsafat pada posisi terakhir. Ia menganjurkan peserta didik mempelajari ilmu alat ilmu-ilmu bahasa Arab dengan berbagi jenisnya dan ilmu-ilmu ratio sekedar untuk membantu memahami ilmu-ilmu syari’ah yang merupakan ilmu pokok.
   DR.H.ABBUDDIN NATA Filsafat Pendidikan Islam ( jkt logos 1997) h 176


BAB III
KESIMPULAN

            Dari beberapa uraian diatas, terlihat bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang tokoh yang menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya tampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik, dalam rangka menjalankan fungsi sosialnya ditengah-tengah masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar tetap hidup bermasyarakat dengan baik.
            Aspek-aspek yang dapat mendukung proses pendidikan mulai dari peserta didik, penidik, sarana dan prasarana harus benar-benar diperhatikan karena akan sangat berpengaruh pada jalannya proses pendidikan.
            Dalam pada itu hendaknya tidak mengabaikan hakikat tujuan pendidikan itu sendiri yaitu berorientasi pada pengembangan, pengarahan dan pembentukan kepribadian peserta didik. Oleh karena itu guru sebagai pendidik diharuskan mampu membaca situasi dan kondisi dalam pembelajaran, mengetahui psikologi anak dan sebagainya.













DAFTAR PUSTAKA

  • Google
  • Ramayun ,Prof.DR.H. fisafat pendikan islam (kalam mulia Jakarta) hal 283.
  • Ibid  h 284.
  • Ahmad fu’ad al-ahwani,al-Tarbiyah fi al-Islam (Mesir: Dara al-Ma’arif.t.th).h.285.
  • Rahman, Abd  Ibn Khaldun,op.cit.,h 285.
  • NATA, ABBUDDIN Filsafat Pendidikan Islam ( jkt logos 1997) h 176


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar